Kamis, 17 Agustus 2017

BRANDING MERDEKA

Semangat Belajar Branding tapi tidak diimbangi dengan semangat mempraktekkan didunia nyata. Branding dan media-media yang mensupport: Logo, Kemasan, dan media komunikasi visual lain masih dianggap "Barang Mahal" atau dianggap sebagai produk kelas kesekian sehingga dianggap murah dan mudah membuatnya.

Senin, 14 Agustus 2017

BRAND = KEBANGGAAN

Sekali ini bertemu dg driver ojek online GRABbike yg sangat sopan, bagus berkendaranya, bersih motornya, bersih jacketnya, dan ahaiii.... Helmet nya juga keren krn 2 helm yg kami pake juga bersih dan spesial dilapis kulit imitasi dg Logo GRABbike yg dibordir dg rapi. "200 ribu ongkos buat melapis helmnya jadi spt ini" kata Mas Syaiful Mujab sang driver. Ternyata mereka satu Basecamp ada 20 drivers Grab yg secara kolektif membuat helmnya jadi seragam dan keren itu. Mereka rela mengeluarkan biaya untuk service mereka menjadi lebih excellent. Pada level tertentu brand memang bisa menjadi kebanggaan buat siapapun. #brandingitupenting Binus Syahdan - Stasiun Palmerah 13.32 14.08.2017

Selasa, 08 Agustus 2017

BRANDING - Urip Sekedar Mampir Ngombé

Hidup memang ibarat sekedar mampir minum. Tapi karena statement itu, orang kita jadi minum di manapun berada. Di rumah, di Kantor, di Cafe, bahkan di warkop kaki lima... Kalo masa lalu orang minum di kaki lima pilihannya hanya 2... Minum teh atau Kopi... Tapi coba perhatikan saat ini, sambil santai makan gorengan kita bisa menikmati minuman Sachet aneka rasa.... Minuman buah yg dulu hanya diminum orang orang gedongan Nutri Sari, atau Kopi Nescafe... Sekarang bisa dinikmati hanya dg merogoh kocek 2000 sampai 3000 Rupiah. Brand-brand besar dalam 5 tahun terakhir mulai membidik segment kaki lima... Dg membidik market warkop atau wartor (warung motor) yg mobilitasnya sangat luwes bisa ke mana-mana. Orang tidak harus membeli sebotol Nescafe yg harganya puluhan ribu... Cukup dg 12.000an sudah dapat serenceng Nescafe isi 10 sachet , atau kalo mau lebih irit cukup order ke abang warung segelas Kopi panas, pilih brand favourite. Cukup 3000an segelas sudah terpenuhi hasrat "hidup itu sekedar mampir minum". Jadi strategi memecah harga menjadi berbagai pilihan sangat jitu untuk situasi sekarang. Salam #brandingitupenting Rujiyanto Pasar Palmerah Jakarta 7 Agustus 2017 06.21 pagi Hari

Senin, 07 Agustus 2017

BRANDING: EKOSISTEM

Dikutip dari AFP, Pesepakbola dunia asal Brasil berusia 25 tahun itu hengkang dari klub sepak bola Spanyol, Barcelona, ke PSG dengan rekor transfer senilai 222 juta euro (US$ 264 juta) atau Rp 3,5 triliun. Namun, dengan menjual kaos bertuliskan Neymar dan nomor punggung 10 seharga 100 euro, PSG mampu meraup 1 juta euro atau Rp 15,6 miliar dalam sehari. Diperkiraian di pertengahan Maret 2018 nilai transfer termahal sepanjang masa ini bakal kembali hanya dengan menjual kaos. ***** Sepak Bola modern tak hanya olah raga semata. Ada perputaran kapital yang sangat besar di dalamnya. Ada brand yg terus dibangun dan semakin popular. Apakah hanya melalui transfer-transfer pemain spektakular semata ? Ternyata bukan hanya itu... Membangun brand adalah membangun Ekosistem. Bersamaan dengan berjalannya klub olah raga berebut Bola ini merebut kejuaraan, Mereka juga menciptakan media-media pendukung yg sangat dahsyat. Salah satunya menciptakan merchandise-merchandise yg menjadi tambang uang mereka. Salam #brandingitupenting Rujiyanto BSD, 7 Agst 2017

Rabu, 27 April 2016

Jalan Terang di Ujung Sana

Perjalanan panjang sebagai praktisi desain grafis selepas lulus sarjana bukan berakhir ketika jalan bercabang di tahun 2009. Dua jalan yang sama-sama penuh tantangan, dua jalan sama-sama penuh harapan. Jalan sebagai praktisi desain grafis dan jalan baru dibidang pendedikan. Tahun 2009 awal mengenal dunia pendidikan sebagai Dosen di jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Tarumanegara Jakarta. Selang satu tahun kemudian berkat bantuan teman semasa kuliah di Jogyakarta bertambah lagi kampus sebagai networking baru yaitu Desain Komunikasi Visual BINUS University Jakarta. Di tahun 2010 juga mengenal DKV Universitas Multimedia Nusantara di Tangerang. Di saat yang tidak terlalu lama, ada 3 institusi pendidikan yang menjadi konsentrasi baru. Pekerjaan sebagai desainer grafis dan mengajar di 3 kampus berbeda. Konsentrasi dan berbagi waktunya bukan perkara yang gampang. Tahun 2011 keputusan memilih mengajar hanya di satu kampus menjadi keputusan tepat. BINUS University menjadi kampus pilihan untuk home base. Bersamaan dengan mulai kuliah S2 di Jogyakarta, konsentrasi mengajar sebagai dosen harus berbagai dengan pekerjaan regular sebagai desainer grafis. Menjadi pendidik beda dengan hanya sekedar mengajar. Banyak aspek yang harus dikembangkan dalam profesi ini. Mengajar teknis bukan perkara sulit, tapi mengembangkan diri untuk terus mengasah ilmu menjadi tantangan baru. Kreatifitas, disiplin, integritas dan ikhlas berbagi dengan anak didik menjadi pedoman perilaku. Tahun 2013 gelar Magister Seni menjadi titik awal kesungguhan mengarungi dunia pendidikan. Mengajar di pendidikan formal yang selama ini tidak pernah menjadi cita-cita berlanjut menjadi rutinitas keseharian.
Lima tahun sejak awal mengajar, tepatnya di tahun 2015 setelah selama 2 tahun berturut-turut menjadi nominasi Best Teaching Award, akhirnya pengakuan sebagai Best Teaching Performance dari DKV Binus University berhasil diraih. Lambang pengakuan akan performance selama mengajar selama tahun 2013-2014. Tanggung jawab semakin besar, pengembangan diri semakin dituntut, dunia pendidikan terus berjalan, apakah jalan terang ada di ujung sana ?

Minggu, 22 Desember 2013

Kampung Kreatif BACILI

Akhirnya Minggu yang basah di Hari Ibu 22 Desember 2013, karena sejak malam hujan mengguyur Jakarta dan sekitarnya , saya yang ditemani Edgar anak lanang saya, berhasil menginjakkan kaki di Bacili, nama Kampung Kreatif di pinggiran Sungai Ciliwung di daerah Kebon Baru, Tebet Jakarta Selatan. Hari itu puncak penutupan Festival Bacili 2013 yang sudah berlangsung dari bulan November kemarin.
Memasuki kampung ini, kita akan merasa berbeda dibandingkan kita memasuki kawasan padat lain di Jakarta, dari gapura masuk kita sudah di sambut oleh dinding di kiri kanan yang penuh dengan mural (lukisan dinding) yang dibuat oleh warga dan aktifis senirupa dari berbagai komunitas. Awal mula Kampung Kreatif Bacili secara pasti saya belum terlalu paham, tapi dari Mas Iskandar Harrdjodimuljo, Ki Suhardi dan Mbak Tantri Rahayu yang saya kenal di Facebook, perlahan saya mulai mengenal keberadaan kampung ini. Apalagi setelah banyak kegiatan berkesenian yang di lakukan disana melibatkan teman-teman kampus seperti Mbak Iwul Gumulya dan Mas Enrico Halim.
Menyusuri jalan sepanjang kampung ini kita akan banyak disuguhi karya-karya mural yang beraneka gaya dan beraneka konsep. Sangat beragam dan masing-masing punya kekuatan seni yang sangat menakjubkan. Apalagi karya-karya yang dibuat oleh warga kampung itu sendiri yang dengan antusias menyambut aktifitas kegiatan di Bacili. Di warung, di lorong, di tembok manapun kiya akan menemukan sentuhan karya-karya yang dinamis. Gang sempit dan jalan berliku tetap menjadi ciri seperti kampung di Jakarta umumnya, tapi kita akan merasa lebih indah ketika kita menyusurinya.
Awal tahun 2014 besok ada rencana buat ikut meramaikan mural di tembok kampung Bacili , kegiatan yang sudah hampir 25 tahun ditinggalkan, melukis dinding luas dengan segala ekspresi kreatif kita, membuat dinding-dinding bisu dan angker menjadi penuh warna dan harapan.... Insyaallah :D

Senin, 25 November 2013

SITANALA PROJECT

SITANALA Project adalah program pemberdayaan komunitas kreatif di lingkungan Kampung Kusta Sitanala yang saya rencanakan bersama Dr. Nuah Tarigan dari Gerakan Peduli Disabilitas dan Lepra Indonesi (GPDLI). Pada pertemuan pertama dibantu oleh Pak Hermen Hutabarat sebagai ketua GPDLI, berkumpul sekitar 10 warga kreatif yang telah mempunyai usaha seperti pembuatan kerajinan tangan, Sablon, Membatik, Menjahit dan usaha yang berkaitan dengan percetakan. Kita mengadakan Focus Group Discussion seputar permasalahan perkembangan usaha kreatif mereka. Bersamaan dengan pertemuan dengan warga Sitanala, siangnya kita mendapatkan kunjungan teman-teman dari Netherlands Leprosy Relief (NLR), Kerstin Beise dan Maria. Perbincangan dengan kedua tamu dari NLR tersebut berkisar sekitar perkembangan bantuan kesehatan dan pemberdayaan masyarakat Lepra di sekitar Jakarta. Kunjungan diakhiri dengan keliling ke beberapa warga untuk sharing seputar perkembangan penyakit Lepra. Semoga semua bisa saling sinergi dan bermanfaat.