Selasa, 10 April 2012

Selamatkan Pencitraan Yang Tercemar


Sebuah artikel yang menarik dari AMALIA E. MAULANA. PH.D.tentang Personal Branding.
Silahkan dinikmati.....

::::::::::::

Di sini pencitraan. Di sana pencitraan.Di manamana pencitraan. Kata pencitraan sedang ngetrend.Setelah selesai sidang paripurna, misalnya, di media formal dan sosial, obral kata pencitraan. Contohnya: - Sidang paripurna DPR menjadi media untuk pencitraan partai politik.

Jelas terlihat adanya pencitraan dalam sidang tersebut (herrygaara5’s blog). - Penolakan PDIP terhadap kenaikan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi hanyalah sebuah pencitraan saja agar mendapat simpati rakyat menjelang pemilu 2014 (berita media). Dahlan Iskan juga sering dituding melakukan pencitraan. Ini dari media sosial: - Thread di Kaskus.com: Trik pencitraan Dahlan Iskan.

Janji-janji Dahlan Iskan yang sering dimuat di media, yang dapat simpati luas, tapi jarang diperhatikan realisasinya oleh publik. - Twit @Hilal_ahmad: Lamalama kisah heroik Pak DI naik KRL,banting kursi, tidur di rumah penduduk akan hilang jika tak ada perubahan. Ntar dibilang #pencitraan.

Kata pencitraan sudah digunakan secara luas, terlalu luas bahkan. Di twitter, kata ini sangat marak.Twit dengan hastag #pencitraan bisa mencapai ratusan dalam sehari,dalam konteks yang berbeda.Misalnya: - Twit @ilmazaim: Susah bgt ya punya twitter #pencitraan. Gw gak bisa jaim sih orangnya. Apalagi disuruh #kultwit.

Branding vs Pencitraan

Sudah lama saya ingin mengangkat topik pencitraan dan seputar tercemarnya istilah tersebut. Diskusi dengan salah satu teman pembaca buku terbaru saya,BRANDMATE,membuat saya merasa perlu untuk membahas topik pencitraan ini sekarang. Buku BRANDMATE: Mengubah Just Friends Menjadi Soulmates mengangkat topik branding dalam banyak konteks, dari perusahaan, produk hingga personal.

Setelah membaca habis buku BRANDMATE, teman saya menyatakan sepakat dengan seluruh isi buku kecuali satu bab terakhir yaitu tentang IBrand( nama lain personal branding). Dalam bahasa teman saya, dengan konsep I-Brand maka kita akan dipaksa menjadi orang lain. Menjadi tidak honest, menjadi tidak genuine. Teman saya menyebut ini sebagai pencitraan dan sesuatu yang diyakininya salah. Tentu saja bukan seperti itu konsep I-Brand yang saya bahas di buku.

Brand diri atau citra diri yang ditampilkan oleh seseorang haruslah sesuai dengan kompetensinya, tidak boleh berlebihan. Apa yang dikomunikasikan seputar citra diri haruslah sesuatu yang MAMPU dikerjakan. Bukan sekedar pemanis dan agar orang tertarik saja. Miskonsepsi seputar pencitraan ini harus diklarifikasi. Terus terang, saya sering kurang sreg dengan terjemahan kata brand consultant yang ada di belakang nama saya,diganti dengan istilah konsultan merek.

Itu keluar dari koridor maknanya. Brand sebaiknya tidak disamakan dengan kata merek yang berarti nama dagang atau trademark. Brand lebih mengarah kepada janji yang dikomunikasikan, dirangkum di benak konsumen dalam bentuk citra. Brand consultant adalah konsultan yang membantu mengatasi permasalahan seputar perjalanan mencapai cita-cita sebuah brand. Branding dengan akhiran - ing yang mengisyaratkan kata kerja, adalah kegiatan yang berhubungan dengan citra.

Tentu saja dalam konteks membentuk dan membangun, kegiatan dalam branding haruslah positif. Pencitraan–sebagai terjemahan kata branding, jika diselami sekali lagi maknanya, adalah sebuah kata yang netral. Pencitraan seharusnya berarti: “Kegiatan mengomunikasikan pesan atau janji brand sebuah produk, perusahaan atau pribadi, dilakukan secara terus menerus, sehingga pesan tersebut sampai di benak target audience”.

Pada awalnya penggunaan kata pencitraan baik-baik saja. Pencemaran istilah ini baru terjadi setelah apa yang dikomunikasikan sebagai janji para tokoh yang diusung dalam komunikasi iklannya, tidak terbukti. Apa yang dikomunikasikan ternyata berbeda dengan keadaan sebenarnya. Akibatnya, kata pencitraan ini kena getah, tercemar, dikonotasikan sebagai sebuah kegiatan komunikasi yang semu, palsu, tidak membumi.

Pelaku pencitraan dianggap jaim dan hiperbola,berlebihan. Usul saya, selamatkan kata pencitraan agar tetap bisa digunakan pada makna yang sebenarnya. Sebaiknya, tambahkan kata SEMU bagi brand yang dicitrakan secara berlebihan. AMALIA E. MAULANA. PH.D. Brand Consultant & Ethnographer ETNOMARK Consulting www.amaliamaulana.com www.etnomark.com (http://www.seputar-indonesia.com/edisicetak/content/view/485333/)

Tidak ada komentar: